Kawaii Aniichan: MODEL_MODEL KURIKULUM








Kawaii Aniichan: MODEL_MODEL KURIKULUM





MODEL_MODEL KURIKULUM

A.   
Pengertian Kurikulum
Sebelum mengkaji lebih jauh tentang
pengembangan kurikulum PAI, perlu dikemukakan terlebih dahulu apa itu
kurikulum. Kata “Kurikulum”berasal dari kata Yunani yang semula digunakan dalam
bidang olah raga, yaitu currere yang berarti jarak tempuh
lari, yakni  jarak yang harus ditempuh dalam kegiatan berlari mulai
dari star hingga finish. Jarak dari star sampai finish ini kemudian yang
disebut dengan currere.
Dalam bahasa Arab, istilah “kurikulum”
diartikan dengan Manhaj, yakni jalan yang terang, atau jalan yang
terang yang dilalui oleh manusia pada bidang kehidupannya. Dalam konteks
pendidikan, kurikulum berarti jalan terang yang dilalui oleh pendidik/guru
dengan peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap
serta nilai-nilai. Al-Khauly (1981) menjelaskan bahwa al-Manhaj sebagai
seperangkat rencana dan media untuk mengantarkan lembaga pendidikan dalam
mewujudkan tujuan pendidikan yang diinginkan.
Sementara itu menurut E. Mulyasa bahwa kurikulum
adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, kompetensi dasar,
materi standar, dan hasil belajar, serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai hasil kompetensi dasar dan
tujuan pendidikan.
Berdasarkan study yang telah dilakukan oleh
banyak ahli, dapat disimpulkan bahwa pengertian kurikulum dapat ditinjau dari
dua sisi yang berbeda, yakni menurut pandangan lama dan pandangan baru.
Pandangan lama, atau sering juga disebut
pandangan tradisional, merumuskan bahwa kurikulum adalah sejumlah mata
pelajaran yang harus ditempuh murid untuk memperolah ijazah.
Pengertian kurikulum secara tradisional di
atas mempunyai implikasi sebagai berikut:
1.      Kurikulum terdiri atas
sejumlah mata pelajaran. Mata pelajaran sendiri pada hakikatnya adalah
pengalaman nenek moyang di masa lampau. Berbagai pengalaman tersebut dipilih,
dianalisis, serta disusun secara sistematis dan logis, sehingga muncul mata
pelajaran seperti sejarah, ilmu bumi, ilmu hayat, dan sebagainya.
2.      Mata pelajaran adalah
sejumlah informasi atau pengetahuan, sehingga penyampaian mata pelajaran pada
siswa akan membentuk mereka menjadi manusia yang mempunyai kecerdasan berfikir.
3.      Mata pelajaran
menggambarkan kebudayaan masa lampau. Adapun pengajaran berarti penyampaian
kebudayaan kepada generasi muda.
4.      Tujuan mempelajari
mata pelajaran adalah untuk memperoleh ijazah. Ijazah diposisikan sebagai
tujuan, sehingga menguasai mata pelajaran berarti telah mencapai tujuan
belajar.
5.      Adanya aspek keharusan
bagi setiap siswa untuk mempelajari mata pelajaran yang sama. Akibatnya, faktor
minat dan kebutuhan siswa tidak dipertimbangkan dalam penyusunan kurikulum.
6.      Sistem penyampaian
yang digunakan oleh guru adalah sistem penuangan (imposisi). Akibatnya, dalam
kegiatan belajar gurulah yang lebih banyak bersikap aktif, sedangkan siswa
hanya bersifat pasif belaka.
Sebagai perbandingan,
ada baiknya kita kutip pula pendapat lain seperti yang dikemukakan oleh Romine
(1954). Pandangan ini dapat digolongkan sebagai pendapat yang baru (modern),
yang dirumuskan sebagai berikut :
Curriculum is
interpreted to mean all of the organized courses, activities, and experiences
which pupils have under direction of the school, whether in the classroom or
not
Implikasi perumusan di
atas adalah sebagai berikut :
1.      Tafsiran tentang
kurikulum bersifat luas, karena kurikulum bukan hanya terdiri atas mata
pelajaran (courses), tetapi meliputi semua kegiatan dan pengalaman yang
menjadi tanggung jawab sekolah.
2.      Sesuai dengan
pandangan ini, berbagai kegiatan di luar kelas (yang dikenal dengan
ekstrakurikuler) sudah tercakup dalam pengertian kurikulum. Oleh karena itu,
tidak ada pemisahan antara intra dan ekstrakurikulum.
3.      Pelaksanaan kurikulum
tidak hanya dibatasi pada keempat dinding kelas saja, melainkan dilaksanakan
baik di dalam maupun di luar kelas, sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
4.      Sistem penyampaian
yang dipergunakan oleh guru disesuaikan dengan kegiatan atau pengalaman yang
akan disampaikan. Oleh karena itu, guru harus mengadakan berbagai kegiatan
belajar mengajar yang bervariasi, sesuai dengan kondisi siswa.
5.      Tujuan pendidikan
bukanlah untuk menyampaikan mata pelajaran (courses) atau bidang
pengetahuan yang tersusun (subject), melainkan pembentukan pribadi anak
dan belajar cara hidup di dalam masyarakat.
Dari dua sudut
pandangan kurikulum di atas bahwa pengertian yang lama tentang kurikulum lebih
menekankan pada isi pelajaran atau mata kuliah, dalam arti sejumlah mata
pelajaran atau kuliah di sekolah atau perguruan tinggi, yang harus ditempuh
untuk mencapai suatu ijazah atau tingkat, juga keseluruhan pelajaran yang
disajikan oleh suatu lembaga pendidikan. Demikian pula definisi yang tercantum
dalam UU Sisdiknas Nomor 2/1989.
Definisi kurikulum
yang tertuang dalam UU Sisdiknas Nomor 20/2003 dikembangkan kearah seperangkat
rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara
yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk
mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dengan demikian, ada tiga komponen yang
termuat dalam kurikulum, yaitu tujuan, isi dan bahan pelajaran, serta cara
pembelajaran, baik yang berupa strategi pembelajaran maupun evaluasinya.
Menurut Dedy Pradibto, kurikulum merupakan
seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi,dan bahan pelajaran
serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggara kegiatan.
Menurut yang
berpandangan tradisional, kurikulum ialah sejumlah pelajaran yang harus
ditempuh siswa di suatu sekolah. Sedangkan menurut yang berpandangan modern,
kurikulum lebih dari sekedar rencana pembelajaran, kurikulum dianggap sebagai
sesuatu yang nyata terjadi dalam proses pendidikan di sekolah
Menurut Undang-Undang
No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, kurikulum adalah
seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran
serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran
untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Berikut beberapa
definisi kurikulum menurut para ahli:
1.      Macdonald, kurikulum
adalah pernyataan mengenai tujuan.
2.      Nunan, kurikulum adalah semua
kegiatan yang dalam kegiatan-kegiatan tersebut para siswa terlibat secara aktif
dalam aturan sekolah yang meliputi apa yang dipelajari siswa, bagaimana mereka
belajarnya, bagaimana guru membantu mereka dalam belajar, materi apa yang
digunakan, dengan menggunakan gaya dan metode penilaian yang bagaimana serta
fasilitas apa yang digunakan untuk mendukung berjalannya semua kegiatan
tersebut.
3.       Tanner&Tanner,
kurikulum adalah suatu rencana tertulis.
4.       Richards,
kurikulum adalah kegiatan yang esensial karena kegiatan tersebut mencoba
menelaah bagaimana meningkatkan kualitas pengajaran melalui penggunaan
perencanaan, pengembangan, penelaahan dan pelaksanaan dalam semua aspek program
secara sistematis.
5.      Saylor&Alexander, kurikulum adalah
pengalaman nyata yang dialami peserta didik dengan bimbingan sekolah.
6.      Olivia, kurikulum adalah
perangkat pendidikan yang merupakan jawaban atas kebutuhan dan tantangan.
B.    
Latar Belakang Munculnya berbagai Macam
Konsep Kurikulum
Kurikulum adalah rencana tertulis tentang
kemampuan yang harus dimiliki berdasarkan standar nasional, materi yang perlu
dipelajari dan pengalaman belajar yang harus dijalani untuk mencapai kemampuan
tersebut, dan evaluasi yang perlu dilakukan untuk menentukan tingkat pencapaian
kemampuan peserta didik, serta seperangkat peraturan yang berkenaan dengan
pengalaman belajar peserta didik dalam mengembangkan potensi dirinya pada
satuan pendidikan tertentu.
1.      Standar Nasional
pendidikan adalah pernyataan mengenai kualitas hasil dan komponen-komponen
sistem yang berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan di seluruh wilayah
hukum R.I. pada jenjang, jenis atau jalur pendidikan tertentu. Standar nasional
pendidikan mencakup standar isi, standar pembelajaran, standar pengembangan
tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, dan standar evaluasi
pendidikan yang wajib dicapai oleh masing-masing satuan pendidikan pada setiap
jenis dan jenjang pendidikan.
2.      Pengajaran adalah
proses interaksi peserta didik dan sumber belajar di suatu lingkungan belajar
tertentu dalam upaya pendidikan tertentu.
3.      Peserta didik adalah
anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi dirinya melalui
pengalaman belajar yang tersedia pada jalur, jenis dan jenjang pendidikan
tertentu.
4.      Satuan pendidikan
adalah lembaga penyelenggaraan pendidikan, seperti kelompok bermain, tempat
penitipan anak, taman kanak-kanak, sekolah, perguruan tinggi, kursus dan
kelompok belajar.
5.      Kurikulum sebagai
program studi. Pengertiannya adalah seperangkat mata pelajaran yang mampu
dipelajari oleh anak didik di sekolah atau di Instansi pendidikan lainnya.
6.      Kurikulum sebagai
konten. Pengertiannya adalah data atau informasi yang tertera dalam buku-buku
kelas tanpa dilengkapi dengan data atau informasi lainnya yang memungkinkan
timbulnya belajar.
7.      Kurikulum sebagai
kegiatan berencana. Kegiatan yang direncanakan tentang hal-hal yang akan
diajarkan dan dengan cara bagaimana hal itu dapat diajarkan dengan berhasil.
8.      Kurikulum sebagai
hasil belajar. Seperangkat tujuan yang utuh untuk memperoleh suatu hasil
tertentu tanpa menspesifikasikan cara-cara yang dituju untuk memperoleh
hasil-hasil itu, atau seperangkat hasil belajar yang direncanakan dan
diinginkan.
9.      Kurikulum sebagai
reproduksi kultural. Transper dan refleksi butir-butir kebudayaan masyarakat,
agar dimiliki dan difahami anak-anak generasi muda masyarakat tersebut.
10.  Kurikulum sebagai
pengalaman belajar. Keseluruhan pengalaman belajar yang direncanakan di bawah
pimpinan sekolah.
11.  Kurikulum sebagai
produksi. Seperangkat tugas yang harus dilakukan untuk mencapai hasil yang
ditetapkan terlebih dahulu.
Dalam sistem
pendidikan kurikulum sebagai salah satu komponen, namun kurikulum itu sendiri
juga mempunyai beberapa komponen. Hasan Langgulung memandang bahwa kurikulum
mempunyai empat komponen utama, yaitu :
1.      Tujuan-tujuan yang
ingin dicapai oleh pendidikan itu. Dengan lebih tegas lagi orang yang bagaimana
yang ingin kita bentuk dengan kurikulum tersebut.
2.      Pengetahuan (knowledge),
informasi-informasi, data-data, aktifitas-aktifitas, dan pengalaman-pengalaman
dari mana terbentuk kurikulum itu. Bagian inilah yang disebut dengan mata
pelajaran.
3.      Metode dan cara-cara
mengajar yang dipakai oleh guru-guru untuk mengajar dan memotivasi murid untuk
membawa mereka kea rah yang dikehendaki oleh kurikulum.
4.      Metode dan cara
penilaian yang dipergunakan dalam mengukur dan menilai kurikulum dan hasil
proses pendidikan yang direncanakan kurikulum tersebut.
Model konsep kurikulum
muncul sebagai implikasi dari adanya berbagai aliran dalam pendidikan, karena
kurikulum memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan teori pendidikan. Suatu
kurikulum disusun dengan mengacu pada satu atau beberapa teori kurikulum dan
teori kurikulum dijabarkan berdasarkan teori pendidikan. Nana Syaodih
mengemukakan empat teori pendidikan,
 yaitu:
1.      Pendidikan Klasik
Aliran
pendidikan klasik-tradisional yang melahirkan konsep kurikulum rasionalisasi
atau subjek akademis. 
Teori pendidikan klasik berlandaskan pada filsafat
klasik, seperti perenialisme, essensialisme, dan eksistensialisme dan memandang
bahwa pendidikan berfungsi sebagai upaya memelihara, mengawetkan dan meneruskan
warisan budaya. 
Teori pendidikan ini lebih menekankan
peranan isi pendidikan dari pada proses. Isi pendidikan atau materi diambil
dari khazanah ilmu pengetahuan yang ditemukan dan dikembangkan para ahli tempo
dulu yang telah disusun secara logis dan sistematis.
Faktanya,
pendidik mempunyai peranan besar dan lebih dominan, sedangkan peserta didik
memiliki peran yang pasif, sebagai penerima informasi dan tugas dari pendidik.
Pendidikan klasik menjadi sumber bagi pengembangan model kurikulum subjek
akademis, yaitu kurikulum yang bertujuan memberikan pengetahuan yang solid
serta melatih peserta didik menggunakan ide-ide dan proses penelitian, melalui metode
ekspositori dan inkuiri.
2.      Pendidikan Pribadi
Aliran
pendidikan pribadi melahirkan konsep kurikulum aktualisasi diri atau
humanistik. Teori pendidikan ini bertolak dari asumsi bahwa sejak dilahirkan
anak telah memiliki potensi-potensi tertentu. Pendidikan harus dapat
mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki peserta didik dengan bertolak dari
kebutuhan dan minat peserta didik. Dalam hal ini, peserta didik menjadi pelaku
utama pendidikan, sedangkan pendidik hanya menempati posisi kedua, yang lebih
berperan sebagai pembimbing, pendorong, fasilitator dan pelayan peserta didik.
Teori
ini memiliki dua aliran yaitu pendidikan progresif dan pendidikan romantik.
Pendidikan progresif dengan tokoh pendahulunya adalah Francis Parker dan John
Dewey, memandang bahwa peserta didik merupakan satu kesatuan yang utuh. Materi
pengajaran berasal dari pengalaman peserta didik sendiri yang sesuai dengan
minat dan kebutuhannya. Ia merefleksi terhadap masalah-masalah yang muncul
dalam kehidupannya. Berkat refleksinya itu, ia dapat memahami dan
menggunakannya bagi kehidupan. Pendidik lebih merupakan ahli dalam metodologi
dan membantu perkembangan peserta didik sesuai dengan kemampuan dan
kecepatannya masing-masing.
Pendidikan
romantik berpangkal dari pemikiran-pemikiran J.J. Rouseau tentang tabula rasa,
yang memandang setiap individu dalam keadaan fitrah, memiliki nurani kejujuran,
kebenaran dan ketulusan. Teori pendidikan pribadi menjadi sumber bagi
pengembangan model kurikulum humanis. yaitu suatu model kurikulum yang bertujuan
memperluas kesadaran diri dan mengurangi kerenggangan dan keterasingan dari
lingkungan dan proses aktualisasi diri. Kurikulum humanis merupakan reaksi atas
pendidikan yang lebih menekankan pada aspek intelektual (kurikulum subjek
akademis).
3.      Pendidikan Interaksional
Aliran
pendidikan interaksionis melahirkan konsep kurikulum rekontruksi sosial.
Pendidikan interaksional yaitu suatu konsep pendidikan yang bertitik tolak dari
pemikiran manusia sebagai makhluk sosial yang senantiasa berinteraksi dan
bekerja sama dengan manusia lainnya. Pendidikan sebagai salah satu bentuk
kehidupan juga berintikan kerja sama dan interaksi.
Dalam
pendidikan interaksional menekankan interaksi dua pihak dari guru kepada
peserta didik dan dari peserta didik kepada guru. Lebih dari itu, interaksi ini
juga terjadi antara peserta didik dengan materi pembelajaran dan dengan
lingkungan, antara pemikiran manusia dengan lingkungannya. Interaksi ini
terjadi melalui berbagai bentuk dialog. Dalam pendidikan interaksional, belajar
lebih sekedar mempelajari fakta-fakta. Peserta didik mengadakan pemahaman
eksperimental dari fakta-fakta tersebut, memberikan interpretasi yang bersifat
menyeluruh serta memahaminya dalam konteks kehidupan. Filsafat yang melandasi
pendidikan interaksional yaitu filsafat rekonstruksi sosial.
Pendidikan
interaksional menjadi sumber untuk pengembangan model kurikulum rekonstruksi
sosial, yaitu model kurikulum yang memiliki tujuan utama menghadapkan para
peserta didik pada tantangan, ancaman, hambatan-hambatan atau gangguan-gangguan
yang dihadapi manusia. Peserta didik didorong untuk mempunyai pengetahuan yang
cukup tentang masalah-masalah sosial yang mendesak (crucial) dan bekerja
sama untuk memecahkannya.
4.      Pendidikan
Teknologi
Aliran
pendidikan teknologis melahirkoan konsep kurikulum teknologi. Teknologi
pendidikan yaitu suatu konsep pendidikan yang mempunyai persamaan dengan
pendidikan klasik tentang peranan pendidikan dalam menyampaikan informasi.
Namun diantara keduanya ada yang berbeda. Dalam tekonologi pendidikan, lebih
diutamakan adalah pembentukan dan penguasaan kompetensi atau
kemampuan-kemampuan praktis, bukan pengawetan dan pemeliharaan budaya lama.
Dalam konsep pendidikan teknologi, isi pendidikan dipilih oleh tim ahli
bidang-bidang khusus.
Isi
pendidikan berupa data-data obyektif dan keterampilan-keterampilan yang yang
mengarah kepada kemampuan vocational . Isi disusun dalam bentuk desain program
atau desain pengajaran dan disampaikan dengan menggunakan bantuan media
elektronika dan para peserta didik belajar secara individual. 
Peserta
didik berusaha untuk menguasai sejumlah besar bahan dan pola-pola kegiatan
secara efisien tanpa refleksi. Keterampilan-keterampilan barunya segera
digunakan dalam masyarakat.
Guru
berfungsi sebagai direktur belajar (director of learning), lebih banyak
tugas-tugas pengelolaan dari pada penyampaian dan pendalaman bahan. Teknologi
pendidikan menjadi sumber untuk pengembangan model kurikulum teknologis, yaitu
model kurikulum yang bertujuan memberikan penguasaan kompetensi bagi para
peserta didik, melalui metode pembelajaran individual, media buku atau pun
elektronik, sehingga mereka dapat menguasai keterampilan-keterampilan dasar
tertentu.
C.   
Model Konsep Kurikulum
Menurut
Zaenal Arifin,
 model konsep kurikulum tidak terlepas
dari apa yang dikemukakan Hilda Tiba dalam bukunya Curriculum
Devolepment Theory and Practice
, bahwa terdapat tiga fungsi kurikulum,
yaitu:
1.     
Sebagai transmisi, yaitu mewarisi
nilai-nilai budaya, dapat direalisasikan melalui konsep kurikulum subjek akademik.
2.     
Sebagai transformasi, yaitu melakukan
perubahan dan rekontruksi sosial, dapat diwujudkan melalui konsep kurikulum
rekontruksi sosial.
3.     
Sebagai pengembangan individu, dapat
direfleksikan melalui konsep kurikulum humanistik (aktualisasi diri).
Menurut
Moh Ali,
 kurikulum
sebagai suatu rencana yang menjadi panduan dalam menjalankan roda proses
pendidikan di sekolah akan mempunyai bentuk yang berbeda-beda sebagai akibat
dipegangnya konsep tentang fungsi pendidikan itu. Oleh sebab konsep tentang
fungsi pendidikan itu bermacam-macam, maka konsep kurikulum pun bermacam-macam
pula. McNeil (1981), mengkategorikan konsep kurikulum ini ke dalam empat macam,
yaitu:
1.     
Konsep Kurikulum
Subjek Akademik
Kurikulum ini
merupakan model konsep kurikulum yang paling tua, sejak sekolah yang pertama
dulu berdiri. Kurikulum ini menekankan pada isi atau materi pelajaran yang
bersumber dari disiplin ilmu. Penyusunannya relatif mudah, praktis, dan mudah
digabungkan dengan model konsep yang lain. Kurikulum ini bersumber dari pendidikan
klasik, perenialisme (kurikulum berfokus pada pengembangan diri)
danesensialisme (kurikulum berfokus pada keterampilan penting), yang
berorientasi pada masa lalu. Semua ilmu pengetahuan dan nilai-nilai telah
ditentukan oleh pemikir masa lalu. Fungsi pendidikan adalah memelihara dan
mewariskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai-nilai budaya masa lalu kepada
generasi yang baru.
Kurikulum ini lebih
mengutamakan isi pendidikan, belajar adalah berusaha menguasai ilmu
sebanyak-banyaknya. Orang yang berhasil dalam belajar adalah orang yang
menguasai seluruh atau sebagaian besar pend
idikan yang diberikan oleh guru. (Nana
Syaodih Sukmadinata, 1997:81) 
Jadi seorang guru harus
berhati-hati dalam bertindak dan harus menjadi teladan bagi murid-muridnya,
karena ucapan dan tindakan guru akan dicontoh oleh murid-muridnya sebagaimana
dalam pepatah jawa bahwa guru adalah digugu dan ditiru.
Menurut
Moh Ali, (1992:14) konsep kurikulum akademis melahirkan bentuk-bentuk kurikulum
yang berorientasi pada mata pelajaran. Bahan-bahan mata pelajaran yang menjadi
kurikulum diseleksi dari disiplin-disiplin ilmu terkait yang dipandang dapat
mengembangkan proses kognitif. Bentuk lain dari kurikulum yang lahir
berdasarkan konsep kurikulum akademis adalah kurikulum inti atau core
curriculum
. Kurikulum ini berisi mata pelajaran dan bahan pelajaran yang
bersifat fundamental, dan dianggap paling penting untuk dikuasai setiap siswa.
Menurut
Arifin (2001:129), ditinjau dari kerangka dasar kurikulum, konsep kurikulum
subjek akademik memiliki karateristik tertentu, antara lain:
a.      
Tujuan, yaitu mengembangkan kemampuan
intelektual anak melalui penguasaan disiplin ilmu. Dengan pengetahuan dalam
berbagai disiplin ilmu, para siswa diharapkan memiliki konsep-konsep dan
cara-cara yang dapat terus dikembangkan dalam masyarakat yang lebih luas.
Sekolah harus memberikan banyak kesempatan kepada para siswa untuk
merealisasikan kemampuan mereka untuk menguasai warisan budaya.
b.     
Isi atau materi, yaitu mengambil dari
berbagai disiplin ilmu yang telah disusun oleh para ahli lalu diorganisasikan
sesuai kebutuhan pendidikan. Pola organisasi materi yang digunakan dalam
kurikulum subjek akademik adalah:
a.      
Correlatet curriculum adalah
konsep yang dipelajari dalam satu pelajaran dikorelasikan dengan pelajaran
lainnya.
b.     
Unifiet atau Concentrated
curriculum
adalah bahan pelajaran yang tersusun dalam tema-tema pelajaran
tertentu, yang mencakup materi dari berbagai mata pelajaran atau disiplin ilmu.
c.      
Integrated curriculum adalah
bahan ajar yang diintegrasikan dalam suatu persoalan, kegiatan atau segi
kehidupan tertentu.
d.     
Problem solving curriculum adalah
topik pemecahan masalah sosial dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan
yang diperoleh dari berbagai mata pelajaran atau disiplin ilmu.
c.      
Metode, metode yang paling banyak digunakan
dalam kurikulum subjek akademik adalah metode eksposotori dan inkuiri.
d.     
Evaluasi, yaitu menggunakan jenis dan
bentuk evaluasi yang bervariasi.
Konsep kurikulum ini mendapat kritikan
tajam dari berbagai aliran pendidikan yang lain. Kritikan tersebut sekaligus
menunjukkan kelemahan konsep kurikulum ini, yaitu:
a.      
Terlalu menonjolkan domain
kognitif-akademis sehingga domain afektif, psikomotor, sosial, emosional menjadi
terabaikan;
b.     
Konsep yang dikembangkan para ahli belum
tentu sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik;
c.      
Tidak semua siswa dapat memahami dan
menggunakan metode ilmiah;
d.     
 Tidak semua anak-anak menjadi ilmuwan
profesional;
e.      
Guru tidak atau jarang terlibat dalam
penelitian.
2.     
Konsep Kurikulum Humanistik
Konsep
kurikulum ini dikembangkan oleh para ahli pendidikan humanistik. Kurikulum
ini berdasarkan konsep aliran pendidikan pribadi yaitu John Mewey dan J.J.
Rousseau, yang lebih menekankan pada pengembangan kepribadian peserta didik
secara utuh dan seimbang antara perkembangan segi intelektual, afektif, dan
psikomotor. 
Kurikulum ini menekankan pengembangan dan kemampuan dengan
memperhatikan minat dan kebutuhan peseta didik dan pembelajarannya berpusat
pada peserta didik. Pembelajaran segi-segi sosial, moral, dan afektif mendapat
perhatian utama dalam model kurikulum ini. 
Mereka percaya bahwa
siswa mempunyai potensi, punya kemampuan, dan kekuatan untuk berkembang. Para
pendidik humanistik juga berpegang pada konsep Psikologi Gestalt, bahwa
individu atau anak merupakan satu kesatuan yang menyeluruh. Pendidikan
diarahkan pada membina manusia yang utuh bukan saja segi fisik dan intelektual
tetapi juga segi sosial dan afektif (emosi, sikap, perasaan, nilai dll). 
Dalam
hal ini ada beberapa aliran dalam pendidikan humanistik yaitu pendidikan
konfluen,kritikisme,radikal dan mistikisme modern.
Menurut Zaenal Arifin kurikulum
humanistik bersifat child-cebtred (berpusat pada anak didik)
yang menekankan ekspresi diri secara kreatif individualis, dan aktivitas
pertumbuhan dari dalam, bebas paksaan dari luar. Menurut Mc.Neil ciri-ciri
kurikulum humanistik adalah:
a.      
Partisipasi, artinya peserta didik terlibat secara aktif
merundingkan apa yang akan dipelajari.
b.     
Integrasi, artinya ada interpenetrasi
dan integrasi antara pikiran, perasaan dan tindakan (kognitif, efektif, dan
psikomotor).
c.      
Relevansi, artinya terdapat kesesuaian
antara materi pelajaran dan kebutuhan pokok serta kehidupan anak ditinjau dari
segi emosi dan intelektual.
d.     
Diri anak, merupakan sasaran utama yang
harus dipelajari agar anak dapat mengenal dirinya.
e.      
Tujuan, yaitu mengembangkan diri anak
sebagai suatu keseluruhan (Pribadi yang utuh) dalam masyarakat.
Sedangkan ditinjau dari kerangka dasar
kurikum, konsep kurikulum humanistik 
mempunyai ciri-ciri
sebagai berikut:
a.      
Tujuan pendidikan, yaitu mengembangkan
pribadi yang utuh dan dinamis.
b.     
Materi, yaitu menyediakan pengalaman yang
berharga bagi setiap anak yang dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan pribadinya
secara utuh, membantu anak menemukan dan mengaktualisasikan diri, yang
berkenaan dengan intelektual, emosional maupun performance.
c.      
Proses, yaitu terbangunnya emosional
yang kondusif antara guru dan siswa.
d.     
Evaluasi, yaitu lebih mengutamakan proses
daripada hasil, karena itu sifatnya subjektif, baik dari guru maupun siswa.
3.     
Konsep Kurikulum Rekonstruksi Sosial
Konsep
kurikulum ini lebih memusatkan perhatiannya pada problema-problema yang
dihadapi dalam masyarakat, kurikulum ini bersumber pada aliran pendidikan
interaksional. 
Menurut mereka
pendidikan bukanlah merupakan upaya sendiri, tetapi merupakan kegiatan bersama,
interaksi, dan kerjasama. Melalui interaksi dan kerjasama ini peserta didik
berusaha memecahkan problema-problema yang dihadapinya dalam masyarakat menuju
pembentukan masyarakat yang lebih baik. Sekolah bukan hanya dapat membantu
bagaimana berpartisipasi sebaik-baiknya dalam kegiatan sosial.
Menurut Nana Syaodih
Sukmadinata,
 kurikulum rekonstruksi sosial memiliki desain kurikulum
yang berbeda dengan model kurikulum lain, beberapa ciri dari kurikulum ini
adalah:
a.      
Asumsi, tujuan utama dari kurikulum ini adalah menghadapkan para
peserta didik pada tantangan-tantangan, ancaman-ancaman, hambatan-hambatan atau
gangguan-gangguan yang dihadapi manusia.
b.     
Kegiatan belajar dipusatkan pada masalah-masalah sosial
mendesak.
c.      
Pola-pola organisasi kurikulum disusun seperti sebuah roda, di
tengah-tengahnya sebagai poros dipilih suatu masalah yang menjadi tema utama
dan dibahas secara pleno.
Kurikulum
Rekonstruksi Sosial memiliki komponen-komponen yang sama dengan model kurikulum
yang lain, tetapi isi dibentuk berbeda, diantaranya sebagai berikut:
a.      
Tujuan dan isi, setiap tahun program
pendidikan mempunyai tujuan yang berbeda disesuaikan dengan masalah sosial yang
ada di suatu tempat.
b.     
Metode, dalam pembelajaran rekonstruksi
sosial pengembang berusaha mencari keselarasan antara tujuan nasional dengan
tujuan peserta didik.
c.      
Evaluasi, para peserta didik juga
dilibatkan, keterlibatan para peserta didik terutama dalam memilih, menyusun,
dan menilai bahan yang akan diujikan.
4.     
Konsep kurikulum Teknologis
(kompetensi)
Kompetensi dapat didefinisikan sebagai pengetahuan,
keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir
dan bertindak. Perkembangan teknologi mempengaruhi setiap bidang dan aspek
kehidupan, termasuk bidang pendidikan. Sejak dahulu teknologi telah diterapkan
dalam pendidikan, tetapi yang digunakan adalah teknologi sederhana seperti
penggunaan papan tulis dan kapur, pena dan tinta, sabak dan grib, dan
lain-lain. Dewasa ini sesuai dengan tahap perkembangannya yang digunakan adalah
teknologi maju, seperti audio dan video cassette, overhead
projektor, film slide dan motion film, mesin pembelajaran, computer,
CD-Room, andinternet.
Ada beberapa ciri dari kurikulum kompetensi
yang dikembangkan dari konsep 
teknologi pendidikan, yaitu:
a.      
Tujuan diarahkan pada penguasaan kemampuan akademik, kemampuan
vokasional, kemampuan pribadi yang dirumuskan dalam bentuk kompetensi.
b.     
Metode yang merupakan kegiatan pembelajaran sering dipandang
sebagai proses mereaksi terhadap perangsang-perangsang yang diberikan dan
apabila terjadi respons yang diharapkan, respons tersebut diperkuat.
c.      
Bahan ajar atau kompetensi yang luas atau besar dirinci
bagian-bagian atau sub kompetensi yang lebih kecil, yang menggambarkan
obyektif.
d.     
Evaluasi dilaksanakan pada setiap saat, pada akhir suatu
pelajaran, suatu unit, ataupun semester. Fungsi dari evaluasi ini adalah
sebagai umpan balik bagi peserta didik dalam penyempurnaan penguasaan suatu
satuan pelajaran, sebagai umpan balik bagi peserta didik pada akhir suatu
program atau semester, juga dapat menjadi umpan balik bagi guru dan
pengembangan kurikulum untuk penyempurnaan kurikulum.
D.   
Dasar Kurikulum Pendidikan Islam
Kurikulum sebagai salah satu komponen pendidikan yang sangat
berperan dalam mengantarkan pada tujuan pendidikan yang diharapkan, harus
mempunyai dasar-dasar yang merupakan kekuatan utama yang mempengaruhi dan
membentuk materi kurikulum, susunan dan organisasi kurikulum.
Herman H. Horne memberikan dasar bagi penyusunan kurikulum
dengan tiga macam, yaitu :
1.     
Dasar Psikologis, yang digunakan untuk memenuhi dan mengetahui
kemampuan yang diperoleh dari pelajar dan kebutuhan anak didik (the ability
and needs of children
).
2.     
Dasar Sosiologis, yang digunakan untuk mengetahui tuntunan yang
sah dari masyarakat (the legitimate demands of society)
3.     
Dasar Filosofis, yang digunakan untuk mengetahui keadaan alam
semesta tempat kita hidup (the kind of universe in which we live).
Sementara itu
Al-Syaibani menawarkan dasar-dasar kurikulum sebagai berikut :
1.     
Dasar Agama, tujuan dan kurikulumnya pada dasar agama Islam
dengan segala aspeknya. Dasar agama ini dalam kurikulum pendidikan Islam jelas
harus berdasarkan pada al-Qur’an, al-Shunnah dan sumber-sumber yang bersifat
furu’ lainnya.
2.     
Dasar Falsafah, dasar ini memberikan pedoman bagi tujuan
pendidikan Islam secara filosofis, sehingga tujuan, isi dan organisasi
kurikulum mengandung suatu kebenaran dan pandangan hidup dalam bentuk
nilai-nilai yang diyakini sebagai suatu kebenaran, baik ditinjau dari sisi
ontology, epistimologi, maupun aksiologi.
3.     
Dasar Psikologi, dasar ini memberikan landasan dan perumusan
bahwa dalam perumusan kurikulum yang sejalan dengan ciri-ciri perkembangan
psikis peserta didik, sesuai dengan tahap kematangan dan bakatnya.
4.     
Dasar Sosial, dasar ini memberikan gambaran bagi kurikulum
pendidikan Islam yang tercermin pada dasar sosial yang mengandung ciri-ciri
masyarakat Islam dan kebudayaannya. Baik dari segi pengetahuan, nilai-nilai
ideal, cara berfikir dan adat kebiasaan, seni dan sebagainya. Kaitannya dengan
kurikulum pendidikan Islam sudah tentu kurikulum ini harus mengakar terhadap
masyarakat dan perubahan dan perkembangannya.
E.    
Pengembangan Kurikulum PAI
Pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam (PAI) dapat
diartikan sebagai:
1.     
Kegiatan menghasilkan kurikulum PAI atau
2.     
Proses yang mengaitkan satu komponen dengan yang lainnya untuk
menghasilkan kurikulum PAI yang lebih baik; dan atau
3.     
Kegiatan penyusunan (desain), pelaksanaan, penilaian dan
penyempurnaan kurikulum PAI.
Dalam realitas
sejarahnya, pengembangan kurikulum PAI tersebut ternyata mengalami
perubahan-perubahan paradigma
 walaupun dalam beberapa hal tertentu paradigm sebelumnya
masih tetap dipertahankan hingga sekarang. Hal ini dapat dicermati dari
fenomena berikut :
1.     
Perubahan dari tekanan pada hafalan dan daya ingatan tentang
teks-teks dari ajaran-ajaran agama Islam, serta disiplin mental spiritual
sebagaimana pengaruh dari timur tengah, kepada pemahaman tujuan, makna dan
motivasi beragama Islam untuk mencapai tujuan pembelajaran PAI;
2.     
Perubahan dari cara berfikir tekstual, normatif, absolutis
kepada cara berfikir historis, empiris, dan kontekstual dalam memahami dan
menjelaskan ajaran-ajaran dan nilai-nilai agama Islam;
3.     
Perubahan dari tekanan pada produk atau hasil pemikiran
keagamaan Islam dari para pendahulunya kepada proses atau metodologinya
sehingga menghasilkan produk tersebut;
4.     
Perubahan dari pola pengembangan kurikulum PAI yang hanya
mengandalkan pada para pakar dalam memilih dan menyusun isi kurikulum PAI ke
arah keterlibatan yang luas dari para pakar, guru, peserta didik, masyarakat
untuk mengidentifikasi tujuan PAI dan cara-cara mencapainya.
F.    
Fungsi Kurikulum PAI
1.     
Bagi sekolah/madrasah yang bersangkutan:
a.      
Sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan agama Islam yang
diinginkan atau dalam istilah KBK disebut standar kompetensi PAI, meliputi
fungsi dan tujuan pendidikan nasional, kompetensi lintas kurikulum, kompetensi
tamatan/lulusan, kompetensi bahan kajian PAI, kompetensi mata pelajaran PAI
(TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA), kompetensi mata pelajaran kelas (I, II, III, IV,
V, VI, VIII, IX, X, XI, XII).
b.     
Pedoman untuk mengatur kegiatan-kegiatan pendidikan agama Islam
di sekolah/madrasah.
2.     
Bagi sekolah/madrasah di atasnya :
a.      
Melakukan penyesuaian.
b.     
Menghindari keterulangan sehingga boros waktu
c.      
Menjaga kesinambungan
3.     
Bagi masyarakat :
a.      
Masyarakat sebagai pengguna lulusan (users), sehingga
sekolah/madrasah harus mengetahui hal-hal yang menjadi kebutuhan masyarakat
dalam konteks pengembangan PAI.
b.     
Adanya kerjasama yang harmonis dalam hal pembenahan dan
pengembangan kurikulum PAI.
G.   
Proses Pengembangan Kurikulum
Dalam mengembangkan suatu kurikulum banyak pihak yang turut
berpartisipasi, yaitu : administrator pendidikan, ahli pendidikan, ahli
kurikulum, ahli bidang ilmu pengetahuan, guru-guru, dan orang tua murid, serta
tokoh-tokoh masyarakat. Dari pihak-pihak tersebut yang secara terus menerus
turut terlibat dalam pengembangan kurikulum adalah : administrator, guru, dan
orang tua.
Dalam mengembangkan kurikulum, kurikulum yang dimaksud di sini
adalah kurikulum PAI dimulai dari kegiatan perencanaan kurikulum. Dalam
menyusun perencanaan ini didahului oleh ide-ide yang akan dituangkan dan
dikembangkan dalam program. Ide kurikulum bisa berasal dari :
1.     
Visi yang direncanakan. Visi (vision) adalah the
statement of ideas or hopes
, yakni pernyataan tentang cita-cita atau
harapan-harapan yang ingin dicapai oleh suatu lembaga pendidikan dalam jangka
panjang.
2.     
Kebutuhan stakeholders (siswa, masyarakat, pengguna lulusan),
dan kebutuhan untuk studi lanjut.
3.     
Hasil evaluasi kurikulum sebelumnya dan tuntutan perkembangan
ipteks dan zaman.
4.     
Pandangan-pandangan para pakar dengan berbagai latar
belakangnya.
5.     
Kecenderungan era globalisasi yang menuntut seseorang untuk
memiliki etos belajar sepanjang hayat, melek sosial, ekonomi, politik, budaya
dan teknologi.
H.   
Tujuan Pengembangan Kurikulum
Istilah yang digunakan
untuk menyatakan tujuan pengembangan kurikulum adalah goalsdan objectives. makna
tujuan, khususnya tujuan pendidikan nasional adalah berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang
maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreaktif, mandiri, dan
menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Secara lebih jauh, tujuan berfungsi sebagai pedoman bagi
pengembangan tujuan-tujuan spesifik (objectives), kegiatan belajar,
implementasi kurikulum, dan evaluasi untuk mendapatkan balikan (feedback).
Mengingat pentingnya tujuan, tidak heran jika perumusan tujuan
menjadi langkah pertama dalam pengembangan kurikulum. Filosofi yang dianut
pendidikan atau sekolah biasanya menjadi dasar pengembangan tujuan. Oleh karena
itu, tujuan hendaknya merefleksikan kebijakan, kondisi masa kini dan masa
datang, prioritas, sumber-sumber yang sudah tersedia, serta kesadaran terhadap
unsur-unsur pokok dalam pengembangan kurikulum.
I.      
Kurikulum dan Tujuan Pendidikan
Sebagaimana dijelaskan
sebelumnya bahwa dalam pencapaian akhir pendidikan dapat dilakukan sekaligus,
akan tetapi secara bertahap, dan setiap tahap atau menuju sasaran yang sama.
Tahap-tahap yang dikembangkan dalam pendidikan umum adalah berakhir pada tujuan
Nasional sebagai tujuan umum yang secara terbatas ditentukan pula oleh falsafah
Negara itu masing-masing. Bahkan pada zaman modern ini kita dapati pendidikan
merupakan pantulan dari falsafah suatu bangsa dan ialah yang merupakan juru
bicara dari semangat bangsa tersebut. Oleh karena itu sesuai dengan kepentingan
setiap Negara, berdasarkan falsafah bangsa itu, maka ke situ pulalah pendidikan
itu diarahkan. Selanjutnya untuk mencapai pendidikan (sekolah) menyusun
kurikulum tertentu sebagai pedoman dalam proses pembelajaran.
J.     
Kerangka Dasar Kurikulum Pendidikan Islam
Pendidikan Islam yang berfalsafah al-Qur’an sebagai sumber
utamanya, menjadikan al-Qur’an sebagai sumber utama penyusunan kurikulumnya.
Muhammad Fadhil al-Jamili mengemukakan bahwa al-Qur’an al-Karim
adalah kitab terbesar yang menjadi sumber filsafat pendidikan dan pengajaran
bagi umat Islam. Sudah seharusnya kurikulum pendidikan Islam disusun sesuai
dengan al-Qur’an dan ditambah dengan al-Hadits yang melengkapinya.
Di dalam al-Qur’an dan Hadits ditemukan kerangka dasar dan dapat
dijadikan sebagai pedoman dan penyusunan kurikulum pendidikan Islam. Kerangka
dasar tersebut adalah sebagai berikut :
1.     
Sesuai dengan al-Qur’an bahwa yang menjadi kurikulum ini (intra
curiculer) pendidikan Islam adalah “Tauhid” dan harus dimantapkan sebagai unsur
pokok yang tidak dapat dirubah. Pemantapan kalimat tauhid sudah dimulai
semenjak bayi dilahirkan dengan memperdengarkan adzan dan iqomah terhadap bayi
yang dilahirkan.
2.     
Kurikulum inti (Intra Curiculer) selanjutnya adalah perintah
‘Membaca’ ayat-ayat Allah yang meliputi 3 macam ayat yaitu : (1) ayat Allah
yang berdasarkan wahyu. (2) ayat Allah yang ada pada diri manusia, dan (3) ayat
Allah yang terdapat di dalam alam semesta di luar diri manusia.
Artinya : “Bacalah!
Dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah! Dan Tuhanmulah yang maha Pemurah yang mengajarkan (manusia) dengan
perantara kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya
”.
(Q.S. al-Alaq : 1-5).
Ditinjau dari segi
kurikulum sebenarnya firman Allah SWT itu merupakan bahan pokok pendidikan yang
mencakup seluruh Ilmu pengetahuan yang dibutuhkan oleh manusia
. Membaca selain
melibatkan proses mental yang tinggi, pengenalan (cognition), ingatan (memory),
pengamatan (perception), pengucapan (verbalization), pemikiran (reasoning),
daya cipta (creativity),
 juga sekaligus merupakan bahan pendidikan itu sendiri.
Mungkin taka ada satu kurikulum pendidikan di dunia ini yang tidak mencantumkan
membaca sebagai materinya, bahkan umumnya membaca ini ditempatkan dari sekolah
dasar, perguruan tinggi dengan berbagai variasi.
Kelima ayat tersebut pada dasarnya telah
mencakup kerangka kurikulum pendidikan Islam yang wajib dijabarkan sebagai
berikut :
1.     
Bacalah! Dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Tekanan
yang terkandung dalam ayat ini adalah kemampuan membaca yang dihubungkan dengan
nama Tuhan sebagai Pencipta. Hal ini erat hubungannya dengan ilmu naqli (perennial
knowledge
).
2.     
Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Ayat tersebut
mendorong manusia untuk mengintropeksi menyelidiki tentang dirinya dimulai dari
proses kejadian dirinya. Manusia ditantang dan dirangsang untuk mengungkapkan
hal itu mulai imaginasi maupun pengalamannya (acquired knowledge).
3.     
Bacalah! Dan Tuhanmulah yang paling pemurah, yang mengajarkan
manusia dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya. Motifasi yang terkandung dalam ayat ini adalah agar manusia
terdorong untuk mengadakan eksplorasi alam dan sekitarnya dengan kemampuan
membaca dan menulisnya.
Baca Juga :  PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL



Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam;
di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi, Op-Cit
, hal. 2
Oemar Hamalik, Manajemen Pengembangan Kurikulum,
(Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2006), hal. 91.
Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan Islam,
(Jakarta : PT. Pustaka al-Husna, 1988), hal. 303.
Sukmadinata, Nana Syaodih. Pengembangan
Kurikulum Teori Dan Praktik
Bandung: Remaja Rosdakarya Offset, 1997, hal. 21-22
Arifin, Zainal. Pendekatan Dan
Model Pengembangan Kurikulum
. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2001,
hal. 127
Ali, Mohammad. Pengembangan
Kurikulum Di Sekolah
. Bandung: CV Sinar Baru Offset, 1992, hal. 10
Zainal Arifin,. Pendekatan Dan
Model Pengembangan Kurikulum
. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2001,
hal. 133
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Op-Cit, hal. 131
Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam;
di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi, Op-Cit,
 hal. 10-11.
Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum,; Teori
dan Praktek, Op-Cit
, hal. 155.
Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam;
di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi, Op-Cit
, hal. 12-13.
Eneng Muslihah, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta :
PT. Diadit Media, 2010), hal. 73.
Hasan Langgulung, Pendidikan dan Peradaban Islam,
(Jakarta : PT. Pustaka al-Husna), hal. 166
Eneng Muslihah, Ilmu Pendidikan Islam, Op-Cit, hal.
8
0-81.

Kata Kata Motivasi Bahasa Inggris Keren Penginspirasi Hidup ~ KATA MOTIVASI KEHIDUPAN

Hidup memang banyak liku-likunya, jatuh bangun itu biasa, yang terpenting adalah tetap semangat dan tidak pernah menyerah dalam menghadapi segala permasalahan, yakinlah Tuhan hanya memberi ujian sesuai takaran kemampuan kita yang sebenarnya.. right?.. 😀   Kata Kata...

Kata Kata Motivasi Perjuangan Hidup Presiden Soekarno ~ KATA MOTIVASI KEHIDUPAN

Selamat datang kembali saudara saudari.. ;)Apakah benar anda sedang mencari kumpulan kata kata penyemangat dan kalimat kalimat motivasi perjuangan dari bung Karno?Jika ya, maka anda sudah berada di tempat yang tepat dan benar. hehe..Pada kesempatan kali ini Kang Paijo...

Anti Malas !! Kumpulan Kata Kata Motivasi Hidup Paling Dahsyat ~ KATA MOTIVASI KEHIDUPAN

Kumpulan Kata Kata Motivasi dan Inspirasi Sukses Terbaru Tentang Kesuksesan Kita semua menyadari bahwa kesuksesan adalah sebuah hasil atas jerih payah kita setelah melakukan perjalanan yang seringkali menjatuhkan kita kepada lubang lubang kegagalan.Yang pastinya kita...

Kumpulan Kata-Kata Mutiara Islami Tentang Makna Kehidupan ~ KATA MOTIVASI KEHIDUPAN

   Berikut adalah Kumpulan Renungan, dan Kata Kata Mutiara Islami serta Nasehat Bijak Kehidupan Islami tentang Perbaikan Diri dan dari Para Tokoh Islam, Sahabat Nabi, Ahlul bait Nabi dan Para Imam serta Ulama Besar Dunia Islam yang Bijaksana. Semoga dengan membaca dan...

0 Komentar

Kirim Komentar